Jangan Pernah Mengeluh
Beberapa waktu kemarin aku berkesempatan jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan bersama teman-temanku. Hari itu kami memang ada keperluan untuk membeli beberapa potong pakaian seragam.
Setelah menjelajahi beberapa toko pakaian dan hari sudah agak sore kami memutuskan untuk mengisi perut kami dengan makan siang. Setelah selesai makan kami kembali menjelajahi toko-toko yang ada di situ. Kami sempat mampir ke sebuah optik untuk menemani salah seorang teman kami untuk memeriksakan matanya. Saking asyiknya kami melihat-lihat aksesoris yang ditawarkan di toko tersebut kami tidak sadar bahwa sedari tadi ada seorang Ibu yang mondar mandir menjajakan makanan.
Memang hampir di setiap lantai pusat perbelanjaan itu terdapat begitu banyak penjaja makanan yang hilir mudik. Makanan yang ditawarkan pun rata-rata sama jenisnya. Namun bukan itu yang menggangguku. Setelah beberapa kali ia mondar mandir di depan kami, aku baru sadar bahwa ia sedang hamil tua. Ia begitu gigih menawarkan dagangannya kepada para pengunjung yang lewat namun tidak ada yang membelinya. Keringat mulai menetes disekujur tubuhnya. Maklum hari itu suasananya cukup panas. Aku sempat berpikir sejenak. Dalam keadaan normal saja aku yang baru beberapa jam menjelajahi pusat perbelanjaan itu sudah kelelahan. Tapi dia, dengan berbekal nampan yang diisi penuh dengan makanan dagangan dan calon bayi di dalam perutnya harus berjalan hilir mudik entah sudah berapa lamanya. Ya Tuhan, aku masih lebih beruntung darinya, bathinku dalam hati.
Akhirnya kami memanggil si Ibu tadi dengan niat untuk membeli makanan yang dijajakannya. Sebenarnya kami tidak lapar, karena toh kami baru saja selesai makan siang. Namun melihat usahanya yang gigih dan sabar itu hati kami tergugah. Saat melayani kami, kuperhatikan bahasa tubuhnya. Terlihat beberapa kali ia tersenyum sambil melayani kami. Setelah selesai bertransaksi ia mengucapkan terimakasih kepada kami. Agak terkejut saat mendengar ia mengucapkan teriam kasih berulang-ulang dengan semangat.
Sebenarnya aku yang harus berterimakasih padanya. Sikapnya yang pantang menyerah di dalam keterbatasannya dan tutur katanya yang manis walau dihimpit kesusahan telah mengajarkanku banyak hal. Bahwa aku harus selalu mengucap syukur pada Tuhan atas segala karunianya. Dan bahwa kita juga harus tetap bersemangat dalam menjalani segala macam kesusahan sekalipun. Dengan begitu kita akan dimampukan untuk menjalani segala rintangan hidup ini dengan baik.
Mungkin aku tidak akan bertemu dengan Ibu penjaja makanan tiu lagi. Namun, satu hal yang pasti ia telah menambahkan satu warna dalam hidupku. Terima kasih Bapa yang baik.

Leave a Reply